Cerpen ku..

Ku Tunggu Kau Bermalam-Malam

 

Oleh : Siti Nurhayati / Ayya

Mentari senja telah terbangun, ayam-ayampun berkokok bagai alarm yang membangunkan tidurku yang lelap. Aku bergegas bangun dan segera mandi meskipun airnya masih seperti dikutub utura. Pagi ini aku harus berangkat pagi-pagi karena ada kuliah jam 8 nanti, aku tidak mau sampai terjebak macet di jalan karena tak bisa ku bayangkan gimana jadinya jika aku telat masuk kelas sedangkan dosenku tak mau membukakan pintu untuk mahasiswa yang terlambat. Huuh pasti bakal menjadi hari yang terburuk jika itu semua sampai terjadi. Tiba-tiba ku terbayang sewaktu SMA yang pernah telat dan terpaksa harus pulang, padahal hari itu ada ulangan fisika. Terlintas dipikiranku juga tebayang kisah-kisah asmara ku di waktu SMA, hehehe.

Hari demi hari telah kita lalui, sudah hamper 3 tahun kita bersama, yang awalnya kita sahabatan kini tumbuh menjadi benih–benih cinta. Sebut saja dia Adie, dia teman sekelasku sewaktu di SMA, kini dia telah menjadi kekasihku. Sebelum lulus SMA kita sama-sama mempunyai mimpi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, dia berniat nuntuk masuk UGM dan aku sendiri ingin sekali masuk IPB. Karena mimpi kita yang besar itu kita jadi sering belajar bersama sampai kita telah mengenali seluruh keluarga masing-masing. Namun nasib kami belum beruntung, kami tidak lolos masuk PTN favorit kami meskipun kita sudah berusaha belajar dengan keras dan mencoba mengikuti berbagai tes yang jaraknya pun tak dekat dengan rumah kami. Alhasil, meskipun kita tidak lolos PTN tapi kita tetap bisa melanjutkan kuliah. Tuhan itu maha adil, dan aku percaya itu. Sekarang aku kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta dan Adie dipenerbangan Garuda Indonesia, puji syukur kita sama-sama mendapatkan beasiswa.

Jarak bukanlah penghalang untuk hubungan kami, cinta yang telah kita rajut sewaktu SMA kini masih tatap berlanjut dibangku kuliah meskipun kita tak lagi seperti SMA yang hampir setiap hari bertemu, bahkan weekend pun kita masih suka bertemu, memang tak biasa menjalani hari-hari seperti ini, namun kita harus terbiasa demi mewujudkan mimpi kita masing-masing. Tak terasa kini kita sudah hampir genap 2 tahun setelah 2 tahun sahabatan. Besok sore kita berencana untuk pergi makan malam di salah satu tempat favorit kami, sambil berjalan-jalan ke taman sebelum petang datang. Dalam khayalanku aku berharap esok akan menjadi hari yang indah karena besok adalah 2 tahun hari jadian kita.

Anniversarry tahun lalu kita Cuma makan bakso di tempat biasa kita makan waktu SMA jadi aku ingin anniv tahun ini bisa lebih spesial.

“Kukuruyuuuk..” bunyi suara ayam berkokok dan tandanya aku harus bangun.

Hari ini aku lebih semangat dari sebelumnya di tambah hari ini adalah hari yang special. Bingung ni harus pakai baju apa, jadi salah tingkah sendiri, hehe. Hari mulai sore aku segera beres-beres untuk menyambut malam ini.

“Hallo sayang..” Adie menelponku. “iya sayang, ada apa?” aku menjawab. “sayang maaf ya aku ga bisa pergi ketaman sore ini soalnya ada hal yang harus aku kerjakan tapi meja sudah aku pesan di nomor 24, nanti aku tunggu pukul 7 ditempat biasa kita makan ya, kamu jangan datang terlambat, oke.” Dan aku pun mengangguk tanda setuju, meskipun sebenarnya aku kesal tapi aku ga mau merusak mood malam ini. Tapi aku senang karena Adie memesan bangku di nomor 24 karena itu adalah tanggal jadian kita. Akhirnya malam pun tiba, aku sudah dandan serapi dan secantik mungkin untuk malam special ini. Kini aku sudah tiba direstoran, tapi ku perhatikan dari jauh meja nomor 24 masih kosong dengan lilin indah diatasnya, aku coba menghampiri dan ternyata benar Adie belum datang. Aku coba untuk menghubunginya tapi telponnya ga aktif, sms juga ga di bales-bales. Menunggu adalah hal yang menyebalkan tapi aku berusaha sabar dan berusaha berfikir positif, mungkin saja dia terjebak macet dijalan atau dia sedang mnyiapkan kejutan untukku. 1 jam berlalu, aku mulai resah menunggunya berusaha terus untuk berfikir positif. “hayo Luna, sabar sabar, kamu harus sabar” aku berbicara sendiri dan waktu sudah hampir jam 8.30.

Adie yang sedang ditunggu dengan Luna dimeja nomor 24 ternyata dia sedang bersama dengan adik angkatnya, yang sebenarnya adik angkatnya itu mempunyai perasaan dengannya dan entah apakan Adie pun mempunyai perasaan yang sama atau tidak. Adie tak bisa pergi meninggalkan adiknya itu, sebut saja dia dita. Dita sedang sakit keras dia sangat membutuhkan Adie karena dengan kehadirannya Adie disampingnya, dita merasa lebih kuat dan sehat. Adie sudah mulai cemas karena dia tidak bisa datang tepat waktu padahal dia sendiri yang bilang kalau Luna tidak boleh datang terlambat, tapi malah dia sendiri yang terlambat. Adie pun tidak bisa menghubungi Luna karena didalam kamar rawatnya dita tidak diperbolehkan menggunakan handphone, mencoba untuk keluar sebentar tapi dita menggenggam erat tangannya Adie, Adie pun tak tega melihat kondisi dita yang terbaring lemah diatas kasur.

Sudah hampir 2 jam aku menunggu Adie tapi Adie tak juga kunjung datang, aku hampir saja mau menangis karena malam ini aku merasa sangat kecewa, tapi aku berusaha tegar. Aku merasa ada yang aneh dengan semua ini karena akhir-akhir ini Adie terlihat sangat berbeda, tatapannya taklagi seperti dulu yang begitu hangat saat menatapku. Pikiran negative pun telah menghantui ku. Aku kesal, marah, kecewa, sedih, campur aduk semua yang kurasa. Malam indah yang sudah aku bayangkan, makan berdua dengan suasana yang romantis di hiasi dengan suasana lampu yang indah serta lilin yang menghangatkan tapi semua ini hanya khayalanku saja. Rasanya air mataku sudah tidak bisa aku bendung lagi, aku ga suka menunggu apa lagi harus menunggu berlama-lama seperti malam ini, kalau saja ini bukan hari yang spesial mungkin saja aku sudah pulang dari tadi. Aku berusaha untuk sabar menunggu malam ini tapi kesabaranku sudah habis rasanya. Dan akhirnya aku memilih untuk pulang pada pukul 9.30 malam.

Akhirnya dita tertidur lelap juga dan Adie jadi bisa pergi untuk menemui Luna, dan dia terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9. Adie bergegas ke tempat makan yang sudah dia pesan dimeja nomor 24, dijalan Adie sambil berusaha menghubungi Luna tapi handphonenya Adie malah terjatuh dijalan dan terlindas kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang dijalan. Adie sudah hampir kebingungan dan panik harus bagaimana dia menghubungi Luna agar dia tidak pulang sebelum dia datang. Setelah Adie sampai rupanya aku baru saja pulang dan kami tidak bertemu. Setiba aku dirumah aku masih menunggu telpon dari Adie berharap dia menjelaskan apa yang telah terjadi sampai dia tidak bisa datang. Tapi handphoneku tak berdering juga, dan aku mencoba memejamkan mata agar aku bisa melupakan sejenak kejadian malam ini tapi aku tak bisa tidur aku tetap tidak sabaran menunggu telpon dari Adie sampai aku tak tahu hari mulai pagi. Bengkak sudah kedua mataku, sperti kalah dalam sebuah pertandingan tinju.

“Assalamualaikum, Selamat pagi.. Luna ini aku Adie.” Adie datang kerumahku dan mencoba mengetuk pintu beberapa kali. Rasanya aku enggan untuk membukakan pintu untuknya karena rasa kesalku yang begitu membara, tapi aku pun ingin mendengarkan penjelasannya agar hatiku bisa lega dengan keganjalan semalam. Akhirnya akupun membukakan pintu untuknya, dan Adie mencoba untuk menjelaskan semua yang terjadi, Adie pun begitu merasa sangat bersalah kepada ku dan benar-benar meminta maaf, Adie pun berjanji untuk mengganti yang semalam dengan hal yang jauh lebih indah lagi. Aku yang begitu sangat menyayanginya memaafkannya meskipun rasa kecewaku yang mendalam karena harus menunggu kau bermalam-malam dengan harapan indah yang nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan.